BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Filologi
selama ini dikenal sebagai ilmu yang berhubungan dengan karya masa lampau yang
berupa tulisan. Studi terhadap karya tulis masa lampau dilakukan karena adanya
anggapan bahwa dalam peninggalan tulisan terkandung nilai-nilai yang masih
relevan dengan kehidupan masa kini. Berbeda dengan produk masa kini, hasil
cipta masa lampau tidak selalu dapat diterima dengan jelas sebagai akibatnya
banyak tulisan
masa lampau dirasakan tidak mudah dipahami. Karakteristik karya-karya tulis dengan kondisi seperti tersebut menuntut pendekatan yang memadai. Untuk membaca karya-karya tersebut diperlukan ilmu yang mampu menyiangi kesulitan akibat kondisinya sebagai produk masa lampau. Dalam hal inilah ilmu filologi diperlukan.[1]
masa lampau dirasakan tidak mudah dipahami. Karakteristik karya-karya tulis dengan kondisi seperti tersebut menuntut pendekatan yang memadai. Untuk membaca karya-karya tersebut diperlukan ilmu yang mampu menyiangi kesulitan akibat kondisinya sebagai produk masa lampau. Dalam hal inilah ilmu filologi diperlukan.[1]
B.
Rumusan
masalah
a. Apakah
Pengertian Filologi Secara Etimologi dan Terminologi ?
b. Apa sajakah Objek Kajian Filologi ?
c. Apakah
Tujuan Filologi ?
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Filologi secara Etimologi dan terminologi
Kata filologi berasal dari bahasa Yunani philogia yang berupa gabungan kata dari Philos yang berarti ‘teman’ dan logos
yang berarti ‘pembicaraan’ atau ‘ilmu’. Dalam bahasa Yunani philogia berarti ‘senang berbicara’ yang kemudian berkembang
menjadi ‘senang belajar’, ‘senang kepada ilmu’, ‘senang kepada
tulisan-tulisan,’ dan kemudian ‘senang kepada tulisan-tulisan yang bernilai
tinggi’ seperti ‘karya-karya sastra’.[2]
Jadi filologi sebagai disiplin ilmu mengenai bahasa dan sastra suatu bangsa,
pada mulanya sangat erat kaitannya dengan bahasa dan sastra bangsa Yunani dan
Romawi, kemudian meluas kepada bahasa dan sastra bangsa-bangsa lain,
seperti bangsa Perancis, Spayol,
Belanda.[3]
Filologi sebagai istilah memiliki beberapa pengertian, sebagai berikut.
a. Filologi
sebagai ilmu tentang pengetahuan yang pernah ada. Dari pengertian ini, filologi
memperoleh arti ilmu pengetahuan tentang
segala sesuatu yang pernah diketahui orang.[4]
Informasi mengenai masa lampau suatu masyarakat, yang meliputi berbagai
segi kehidupan dapat diketahui oleh masyarakat masa kini melalui
peninggalan-peninggalan, baik yang berupa benda-benda budaya maupun karya-karya
tulisan. Karya tulisan pada umumnya menyimpan kandungan berita masa lampau yang
mampu memberikan informasi secara lebih terurai. Apabila informasi yang
terkandung dalam karya-karya tulisan mempunyai cangkupan informasi yang luas
dan menyeluruh itu dipahami sebagai kunci pembuka pengetahuan. Sebagaimana yang
dikemukakan oleh Philip August Boekh.
Dari pandangan inilah pengkajian terhadap teks-teks yang tersimpan dalam
peninggalan tulisan lampau tersebut
sebagai pintu gerbang untuk mengungkapkan khazanah masa lampau. Dari pengertian
inilah filologi disebut juga sebagai l’etalage
de savoir.
b. Filologi
sebagai Ilmu Bahasa
Mengingat bahwa lapis awal dari
karya tulisan masa lampau berupa bahasa, maka pekerja filologi pertama-tama
dituntut untuk memiliki bekal pengetahuan tentang bahasa yang dipakai dalam
karya tulisan lama tersebut. Hal ini berarti juga bahwa pengetahuan kebangsaan
secara luas diperlukan untuk membongkar kandungan isi karya tulisan lampau.
Dengan demikian, seorang pekerja filologi --‘filolog’-- harus pula ahli bahasa.
Dari situasi inilah kemudian filologi dipandang sebagai ilmu tentang bahasa.[5]
c. Filologi
pernah dipandang sebagai sastra secara ilmiah
Arti ini muncul ketika teks-teks
yang dikaji itu berupa karya sastra yang bernilai tinggi, yaitu karya-karya
Humeros. keadaan tersebut membawa filologi kepada suatu arti yang memperhatikan
segi kesastraannya (Wagenvoort, 1947). Pada saat ini, arti demikian tidak
ditemukan lagi.
d. Filologi
dapat juga sebagai istilah untuk menyebut studi bahasa atau ilmu bahasa.
Lahirnya pengertian ini akibat dari pentingnya peranan bahasa dalam mengkaji
teks sehingga kajian utama filologi adalah bahasa teks-teks lama. Bidang bahasa
yang dimasuki studi filologi ini adalah bidang yang beraspek masa lampau,
misalnya salah satu segi dari bahasa bandingan, perkembangan bahasa bandingan,
dan hubungan kekerabatan antara beberapa bahasa.[6]
B.
Objek
Kajian Filologi
Filologi
berusaha mengungkapkan hasil budaya suatu bangsa melalui kajian bahasa pada
peninggalan dalam bentuk tulisan. Berita tentang hasil budaya yang diungkapkan
oleh teks klasik dapat dibaca dalam peninggalan yang berupa tulisan atau yang
biasanya disebut naskah. Dalam bidang filologi teks menunjukan pengertian
sebagai sesuatu yang konkret. Oleh karena itu, pemahaman teks klasik hanya
dapat dilakukan lewat naskah yang merupakan alat alat penyimpanan. Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa filologi mempunyai obyek dan sasaran kerja yaitu
naskah dan teks,
Wahana teks-teks filologi ada yang berupa teks lisan dan teks
tulisan tangan dan tulisan cetakan. Oleh karena itu dilihat dari tradisi
penyampainnya terdapat filologi lisan , filologi naskah dan filologi cetakan.
Kerja filologi lisan banyak berkaitan dengan studi tradisi lisan yang merupakan
tradisi penyampaian teks yang paling tua. Filologi naskah banyak berhubungan
dengan pengetahuaan mengenai kehidupan naskah mengenai berbagai segi penyaksian
dengan tulisan tangan dan akibat-akibatnya. Filologi cetakan banyak berhubungan dengan tradisi cetakan. Tradisi ini dimulai pada tahun 1450
saat ditrmukannya teknik mencetak oleh Guttenburg dari Jerman.
Tempat penyimpanan naskah Nusantara tersebar di sebagian daerah Indonesia, bahkan ada juga
yang tersimpan di mancanegara. Naskah biasanya disimpan pada berbagai katalog di perpustakaan dan museum
yang terdapat di berbagai Negara. kecuali di Indonesia, naskah-naskah
teks Nusantara pada saat ini sebagian tersimpan di
museum-museum kurang lebih 26 negara, diantaranya di Malaysia, Singapura,
Brunei, Belanda, Inggris, Spanyol. Sebagai naskah lainnya juga masih tersimpan dan tersebar di
masyarakat secara perseorangan.
C.
Tujuan
Filologi
Sejarah
asal mula lahirnya filologi sebagai suatu istilah, menunjukan bahwa filologi
diperlukan dalam upaya mengungkap informasi mengenai kehidupan masa lampau suatu masyarakat tertentu, yang
tersimpan dalam wujud peninggalan yang berupa tulisan. Diketahui melalui
penggarapan naskah, filologi mengkaji
teks klasik dengan tujuan mengenainya sesempurna mungkin dan selanjutnya menempatkannya dalam keseluruhan sejarah suatu bangsa. Dengan menemukan keadaan teks seperti adanya semula, maka teks dapat
terungkap secara sempurna pula. Secara terperinci dapat dikatakan bahwa
filologi memiliki tujuan umum dan tujuan khusus.
1.
Tujuan
Umum
a. Memahami
kebudayaan suatu bangsa melalui hasil sastranya, baik lisan maupun tulisan.
b. Memahami
makna dan fungsi teks bagi masyarakat penciptanya.
c. Mengungkapkan
nilai-nilai budaya lama sebagai alternatif pengembangan kebudayaan.
2.
Tujuan
khusus
a. Menyunting
sebuah teks yang dipandang mendekati teks aslinya.
b. Mengungkap
sejarah terjadinya teks dan sejarah perkembangannya.
c. Mengungkap
resepsi pembaca pada setiap kurun penerimaannya (Baried, dalam Suryani, 2006:
8).[7]
3.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
dan Saran
Dapat
disimpulkan bahwa Filologi merupakan suatu disiplin yang berhubungan dengan
studi terhadap hasil budaya manusia masa lampau. Dalam bidang filologi teks
menunjukan pengertian sebagai sesuatu yang konkret. pemahaman teks klasik hanya
dapat dilakukan lewat naskah yang merupakan alat alat penyimpanan. Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa filologi mempunyai obyek dan sasaran kerja yaitu
naskah dan teks dan salah satu tujuan dari filologi yaitu memahami kebudayaan
suatu bangsa melalui hasil sastra baik makna maupun fungsi dan mengungkap
nilai-nilai budaya lama.
Di
Indonesia menyimpan sejumlah informasi masa lampau mengenai berbagai segi
kehidupan dan banyak yang belum mendapat sentuhan penelitian khususnya naskah-naskah
yang menyimpan ajaran agama Islam sebaiknya segera dilakukan penelitian dari
para ahli di bidangnya agar naskah tersebut tidak hilang dan terlupakan.
DAFTAR PUSTAKA
Suryani
Elis, 2012, Filologi, Bogor: Ghalia
Indonesia.
Baroroh Siti dkk, 1985, Pengantar Teori Filologi, Jakarta Timur: Pusat Pembinaan Pendidikan
dan Pengembangan Bahasa departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Baroroh Siti dkk, 1994, Pengantar Teori Filologi, Yogyakarta: Badan penelitian dan
Publikasi Fakultas (BPPF) Seksi Filologi, Fakultas Sastra, Universitas Gadjah
Mada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar