Kamis, 19 November 2015

Kunjungan ke Perpustakaan UMY

 Kunjungan "Perpustakaan UMY"



BABI
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
            Setelah mendapatkan  materi yang di berikan oleh bapak M. Solihin Arianto, S.Ag., SIP., M.LIS. mengenai pengembangan koleksi kami melakukan survei di perpustakaan Universitas Muhammadiya Yogyakarta untuk mengetahui prosedur dan kebijakan pengembangan  koleksi beserta ruang lingkupnya bermaksud untuk membandingkan antara teori dengan  kenyataan yang terjadi di lapangan.

B.       Rumusan Masalah
1.      Profil perpustakaan dan Biografi kepala perpustakaan UMY
2.      Pengembangan Koleksi di UMY beserta Ruang Lingkupnya
·      Bagaimana pedoman atau panduan dalam pengembangan koleksi? Tertulis atau tidak?
·      Siapakah yang bertugas atau yang diberi tanggung jawab dalam pengembangan koleksi?
·      Jenis-jenis koleksi apa yang ada di perpustakaan UMY?
·      Apakah proses seleksi melibatkan mahasiswa dan dosen atau hanya petugas saja?
·      Bagaimana implementasi dalam pengadaan koleksi?
·      Bagaimana mengatasi apabila ada koleksi yang di dapat melalui hadiah yang tidak sesuai dengan kebutuhan pemustaka?
·      Apakah strategi pengembangan koleksi melalui kerja sama seperti Inter Library Loan?
·      Bagaimana mengembangan koleksi digital?
·      Apakah hambatan yang dialami dalam kegiatan pengembangan koleksi?
·      Apa keunikan dari perpustakaan UMY?


BAB II
PEMBAHASAN

1.    Profil Perpustakaan Universitas Muhammad Yogyakarta (UMY)
     Perpustakaan UMY beralamat kan di JL.Lingkar Selatan Taman Tirto kasihan Bantul Yogyakarta berada di lantai 3, lantai 1 dan 2 adalah fakultas Ekonomi sedangkan lantai 4 adalah pusat pelatihan bahasa. Visinya yaitu menjadi perpustakaan yang unggul dalam pelayanan sumber informasi kemuhammmadiyahan. Keislaman, dan  ilmu pengetahuan berbasis teknologi melalui kerjasama. Jenis pelayanan yang disediakan adalah layanan Sirkulasi, layanan penelusuran Literature/Informasi (katalog), layanan Repository & Jurnal, Literasi Informasi, Muhammadiyah Corner, Warung Perancis dan Sharing Knowledge.
     Kepala perpustakaannya adalah Bapak Lasa H.S nama H.S sendiri kepanjangan dari Harsono dengan Tempat/tg.lahir : Boyolali, 1 Januari 1948 Alamat : Nologaten RT I RW 04 No.33 Caturtunggal Depok Yogyakarta Pendidikan : Sekolah Rakyat Islam Mamba’ul Ulum di Boyolali 2. Madrasah Tsanawiyah Al Islam di Boyolali, Madrasah ‘Aliyah Al Islam di Surakarta, Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM, sedangkan ilmu mengenai perpustakaan beliau peroleh melalui Diklat. Beliau merupakan penulis buku mulai menulis pada tahun 1973 pada awalnya menulis di Koran, majalah dan artikel. Kamus tentang kepustakawanan Indonesia merupakan salah satu karya dari Bapak Lasa H.S.


2.    Pengembangan Koleksi di UMY besertaRuang Lingkupnya
·         Pengembangan koleksi di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta tidak memiliki pedoman ataupun panduan secara tertulis hanya disampaikan melalui media lisan dengan cara kumpulan rutin setiap hari pukul 08.00 yang di isi dengan ngaji bersama dan ceramah.
·         Kepala perpustakaan bersama kesekertariatan bertanggung jawab dalam pengembangan koleksi dengan prosedur : kepala perpustakaan mencentang pada katalog buku apa saja yang akan di adakan dengan dilanjutkan dengan pengecekkan yang dilakukan oleh sekertaris setelah itu menelepon seles dan langsung di kirim sesuai permintaan. Semua dilakukan dengan cara yang simple dan praktis.
·         Koleksi yang terdapat di perpustakaan UMY meliputi cetak teks dan digital. Kriteria koleksi cetaknya yaitu : belum dimiliki oleh perpustakaan UMY sebelumnya, terbitan dua tahun terakhir, 2 eks setiap pembelian, buku yang lama jika banyak peminat akan di copy sebanyak 5 judul, majalah yang dilanggan yaitu tempo Koran dan jurnal. Selain itu juga melanggan beberapa Database Journal yaitu Proquest dan Ebscohost ( dilanggan Dikti), J Stor dan CENGAGE Learning.
·         Proses seleksi hanya dilakukan oleh kepala perpustakaan dan sekertaris namun disediakan pula kotak usulan buku untuk mahasiswa dan dosen boleh menyarankan buku yang dibutuhkan dalam perkuliahan.
·         Implementasi dalam pengadaan koleksi hanya dilakukan melalui pembelian, hadiah dan beberapa buku yang ditulis oleh dosen. Setiap dosen yang menulis buku diberikan ke Perpustakaan dan oleh LPM dibayar sebanyak sepuluh juta rupiah.
·         Jika terdapat buku yang tidak relevan dengan kebutuhan pemustaka yang didapat dari hadiah, buku tersebut tidak diproses hanya di simpan jika ada yang membutuhkan akan di berikan dan dikirim khusus untuk Sekolah atau Perguruan Tinggi Muhammadiyah.
·         Strategi yang dilakukan oleh perpustakaan UMY dalam bekerja sama tidak menggunakan Inter Library Loan hanya dikhususkan untuk Muhammadiyah saja dan bekerjasama dengan lembaga perpus yaitu Himpusnas merupakan lembaga perpustakaan Muhammadiyah kota.
·         Pengembangan koleksi digital dilakukan dengan cara melanggan E- jurnal dengan masa kontrak satu tahun setiap satu tahun harus membayar agar bisa diperbaharui dan juga E-Book kelebihannya tidak usah membeli efektif dan efesien.
·         Hambatan yang dihadapi dalam melakukan pengembangan koleski yaitu : kurangnya respon dari dosen tiap Prodi dalam mengusulkan koleksi yang mereka butuhkan, buku luar negeri mahal dan sulit di peroleh contohnya buku bahasa Jepang dan harus mengerem pembelian.
·         Keunikan yang dimiliki oleh perpustakaan UMY yaitu : kepala perpustakaan memiliki sistem sendiri  untuk memantau perpustakaan (mengenai koleksi dan keterlambatan pengembalian buku) , penagihan buku terlambat muncul di hp mahasiswa yang bersangkutan dan perpanjangan buku bisa dilakukan melalui hp masing-masing mahasiwa. Diadakannya pelatihan literasi informasi setiap hari Senin-Jumat pukul 08.30-10.00 WIB dan 10.15-11.45 materinya meliputi penelusuran jurnal, teknik penulisan makalah, tugas akhir, skripsi dan desertasi yang dilaksanakan di ruang Repository dan Jurnal lantai dua permustakaan UMY.



BAB III
PENUTUP

1.    Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa pengembangan koleksi yang terdapat di perpustakaan UMY cukup efektif, efesien walaupun mereka tidak menulis pedoman pengembangan koleksi secara tertulis didukung oleh sistem dan kinerja dari petugas yang baik. semua dilakukan dengan cara yang praktis tidak terfokus pada ketentuan-ketentuan yang terpenting bagi mereka pelayanan terhadap pemustaka sudah dilakukan dengan sebaik mungkin dalam hal pengadaan koleksi yang sesuai kebutuhan pemustaka sampai dengan temu kembali informasi.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar